| Makanan Menjadi Dongkrak Inflasi |
| Rabu, 05 Maret 2008 | |
| Harga beras yang mulai menurun tetap tak kuasa menekan inflasi JAKARTA. Harga bahan makanan masih bergerak liar sepanjang Februari 2008. Tak pelak, sodokan harga makanan mendominasi inflasi Februari yang tercatat? 0,65%. Kelompok bahan makanan memberi andil 0,41% pada inflasi Februari. Angka inflasi Februari yang masih lumayan tinggi otomatis membuat pemerintah mesti bekerja lebih keras mencapai target inflasi 2008 sebesar 6,5%. Maklum laju inflasi tahunan (year on year) dari Februari 2007 hingga Februari 2008 masih sebesar 7,40%. Komoditi yang dominan memberikan inflasi antara lain minyak goreng (0,08%), cabe merah (0,16%), ikan segar (0,07%), mie instan (0,03%), tepung terigu dan daging sapi masing-masing 0,01%. Sedangkan komoditi pangan yang harganya cenderung turun antara lain bawang merah (0,06%), beras dan telur ayam (0,03%). Penurunan harga beras menjadi tak berarti Dari sisi wilayah, inflasi terjadi di 38 kota, dari 45 kota yang menjadi area survei Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, sebanyak enam kota mengalami deflasi, dan satu kota yang stabil. "Inflasi Februari memang relatif tinggi, penyebabnya masih sama karena kenaikan harga bahan komoditi pertanian," tandas Ali Rosidi, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin (3/3). Yang menarik, kendati harga beras turun, nyatanya itu belum bisa menyelamatkan inflasi Februari. Maklum, penurunan harga beras ini seolah tertekan oleh kenaikan harga komoditi lain yang lebih garang. Misalnya kenaikan harga terigu, kedelai, minyak goreng dan kebutuhan pokok lain. Walhasil, penurunan harga beras ini seolah tak berkutik menekan inflasi. Musim panen padi yang akan mulai tiba memasuki Maret dan April 2008, kemungkinan juga tak akan berperan banyak menekan inflasi. Sebab harga komoditi pangan di pasar dunia masih terlihat terus menanjak dan belum menampakkan gelagat akan turun. Bahkan harga crude palm oil? atau minyak sawit mentah masih terus mendaki hingga sudah melewati angka US$ 1.300 per ton. Inilah yang mengakibatkan harga minyak goreng di dalam negeri juga susah turun. Belum lagi dampak kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia yang masih anteng di atas US$ 101 per barel. Seiring kenaikan harga minyak ini, harga bahan bakar industri juga akan tetap tinggi. "Kenaikan bahan bakar industri sebesar 5%-6% pada awal Maret ini akan ikut menaikkan inflasi Maret," kata Bambang Prijambodo, Direktur Makro Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Ahad (2/3). Yang jelas, kenaikan harga makanan ini bakal memberatkan masyarakat kelas menengah bawah. Maklum, mereka bakal mengeluarkan ongkos lebih besar untuk membeli bahan makanan yang harganya naik. "Kenaikan harga gandum mengakibatkan pula kenaikan harga kelompok makanan jadi seperti mi," kata Bambang. Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies menyatakan, kenaikan harga tepung terigu saat ini memang sangat menakutkan. "Pertengahan Februari lalu harganya masih di kisaran US$ 630 per ton, namun akhir Februari lalu meningkat menjadi US$ 800 per ton," katanya. Namun, Aptindo untuk sementara tidak akan menaikkan lagi harga tepung terigu, sebab mereka baru saja menaikkan harganya sebesar 15% pada Januari lalu. Aptindo malah memprediksi harga tepung terigu bakal turun mulai Juni nanti. Sebabnya, pusat-pusat produksi gandum dunia saat itu akan merayakan panen raya. Pasokan yang melimpah karena panen itu akan lebih mempengaruhi penurunan harga terigu daripada kebijakan pemerintah yang menanggung bea masuk dan PPh impor. Uji Agung Santosa - Harian Kontan, 4 Maret 2008 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar